Oleh : Taufiqurrohman
Diakui atau tidak mahasiswa merupakan element yang sangat vital bagi bangsa ini dalam menapaki sejarah panjang yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang tak dapat tergantikan dengan apapun. Bahwa, bukan sebuah mitos kalau kaum muda, utamanya mahasiswa dengan segala kapabilitas yang di milkinya mampu menciptakan perubahan yang fenomenal baik yang bersifat mikro maupun makro. Menjadi mahasiswa adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi seseorang. Hal ini tidak terlepas dari penempatan posisi seorang cendekia dalam strata sosial masyarakat Indonesia; dalam jenjang pelopor perubahan dan penentu sejarah masa depan. Sebuah posisi yang tidak mungkin dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki pengetahuan dan keilmuan mumpuni. Tidak pula oleh mereka yang telah terjebak dalam kutub-kutub kekuasaan dan modal yang telah menciptakan ruang pemisah dengan kearifan lokal.
Mahasiswa yang sering disebut banyak kalangan sebagai agen of change atau dalam kalimat yang lebih sederhana dapat diartikan sebagai agen perubahan sosial kearah yang lebih baik mungkin tidak akan berlebihan jika pada tataran riil dalam kancah pergulatan sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia telah banyak menorehkan tinta emas untuk perubahan bangsa, tetapi semuanya hadir tidak dengan proses yang mudah layaknya membalikkan telapak tangan, melainkan butuh internalisasi dan perenungan matang serta gerakan kongkrit dalam mengeluarkan gagasan dan ide mahasaiswa kala itu ( Baca : Gerakan reformasi tahun 98 ) untuk melakukan perubahan atas ketidak adilan dan keterpurukan sistem ekonomi dan pemasungan demokrasi serta kebebasan yang di kebiri.
Gerakan mahasiswa juga merupakan bagian dari gerakan sosial yang didefinisikan sebagai upaya kolektif untuk memajukan atau melawan perubahan dalam sebuah masyarakat atau kelompok maka sangat naïf jika dalam keberadaannya mahasiswa hanya sebagai pelengkap penderita dalam kondisi sosial kemasyarakatan.
Dalam ranah mahasiswa selalu tidak akan pernah terlepas dengan pertarungan wacana dan pergulatan ilmiah intelektualitas yang kesemuanya lahir dan berkembang dikampus sebagai sebuah laboratorium munculnya tokoh besar skala nasional, regional maupun lokal. Indramayu adalah salah satu bahan kajian yang dapat kita identifikasi menjadi bagian dari munculnya tokoh yang muncul dari kalangan akademis kritis mahasiswa.
Kampus yang tersebar dipenjuru Indramayu tidak semuanya mempunyai pandangan selektif dalam kerangka menumbuhkan budaya ilmiah, malah setelah banyak di identifikasi dalam konteks mahasiswa Indramayu mayoritas terkesan konvensional. kenapa tidak, dalam maen shet dan orientasi berfikirnya sangat sederhana hanya sebatas mengejar selembar ijazah dan jabatan status sosial yang lebih tinggi dengan jabatan mahasiswanya, tanpa ada pemikiran untuk melakukan perubahan sosial kemasyarakatan dengan proses panjang kajian kritis mahasiswa sehingga konsekwensi logis yang terjadi mengalami kebingungan paska lulus dari kampusnya. Padahal telah lantang disuarakan oleh pemikir terkemuka Libanon bahwa “Perhatian utama dari kerja intelektual kritis ( Mahasiswa ) adalah menciptakan konsep – konsep yang dapat memberikan sumbangan dalam menegakkan hal – hal yang ditemukan oleh struktur dunia, seperti kekecauan dan kekosongan.” Artinya adalah semua harapan dan cita – cita masyarakat, bangsa dan negara tidak akan tercapai jika para kaum intelektualnya pun tidak mampu memahami dan memberikan solusi terbaik atas kekacauan publik dan kekosongan yang terjadi disekelilingnya.
Kesadaran inilah yang secepatnya dibangun secara siastematis dalam ranah kampus dan sektor – sektor kampus di Indramayu. Paradigma berfikir yang harus dibangun oleh mahasiswa sekarang adalah bagaimana kemudian dimanapun tempatnya berpijak mampu memberikan kontribusi ide dan gagasan konstuktif dan membangun.
Senada dengan bahasa Paulo Freire salah satu filsuf dan pakar pendidikan Brazil yang memetakan tipologi kesadaran manusia dalam tiga kategori; Pertama, kesadaran magis ( Magic Conscousness), kedua, kesadaran naif ( Naival Consciousness ); Ketiga Kesadaran kritis ( Critical Consciousness ).
1. Kesadaran Magis merupakan jenis kesadaran paling determinis. Seorang manusia tidak mampu memahami realitas sekaligus dirinya sendiri. Bahkan dalam menghadapi kehidupan sehari-harinya ia lebih percaya pada kekuatan taqdir yang telah menentukan. Bahwa ia harus hidup miskin, bodoh, terbelakang dan sebagainya adalah suatu "suratan taqdir" yang tidak bisa diganggu gugat. Ini sangat disayangkan jika selama masa kuliah dihabiskan masih dalam kapasitas ini sehingga pasti akan tidak mampu menjadi inspirasi untuk orang lain karena selalu apa yang terjadi didasarkan pada takdir semata tanpa ada analisis yang mendalam tentang segala persoalan yang terjadi dimasayarakat.
2. Kesadaran Naif adalah jenis kesadaran yang sedikit berada di atas tingkatan-nya dibanding dengan sebelumnya. Kesadaran naif dalam diri manusia baru sebatas mengerti namun kurang bisa menganalisa persoalan-persoalan sosial yang berkaitan dengan unsur-unsur yang mendukung suatu problem sosial. Ia baru sekedar mengerti bahwa dirinya itu tertindas, terbelakang dan itu tidak lazim. Hanya saja kurang mampu untuk memetakan secara sistematis persoalan-persoalan yang mendukung suatu problem sosial itu. Apalagi untuk mengajukan suatu tawaran solusi dari problem sosial.
3. Kesadaran Kritis adalah jenis paling ideal di antara jenis kesadaran sebelumnya. Kesadaran kritis bersifat analitis sekaligus praksis. Seseorang itu mampu memahami persoalan sosial mulai dari pemetaan masalah, identifikasi serta mampu menentukan unsur-unsur yang mempengaruhinya. Disamping itu ia mampu menawarkan solusi-solusi alternatif dari suatu problem sosial. Dan tipologi ketiga inilah harapan kita bersama untuk sahabat sebagai regenerasi yang nanti akan mampu menjawab persoalan – persoalan yang terjadi di sekelilingnya.
Maka sebuah keniscayaan bahwa mahasiswa Indramayu hari ini harus memiliki target lebih untuk mencapai kearifan sebagai kaum muda regenarasi kepemimpinan bangsa, tanpa ada orientasi konvensional dan selalu berfikir pesimis, mahasiswa kedepan harus lebih punya motivasi tinggi untuk membangun institusi yang digeluti dengan berproses serius untuk mematangkan nalar analisis, peningkatan kapasitas integritas keilmuan dan managerial organisasi dengan lebih aktif mengakses informasi sebagai referensi untuk kebutuhan sekaligus konsumsi untuk menentukan arah gerak pribadi mahasiswa dan aktif di setiap bentuk agenda ilmiah dikampus ataupun di luar kampus.


0 komentar:
Posting Komentar