Paradigma merupakan naturalisasi dari Istilah Paradigma (Inggris) atau paradigme (Prancis), yang berasal dari dua kata yaitu para yang berarti di sisi atau di samping, dan kata deigme yang berarti contoh, pola dan model. Maka paradigma dapat diartikan sebagai contoh, pola dan model atau cara pandang dalam mengamati sesuatu serta menatanya sedemikian rupa sehingga mudah dipahami. Di samping itu ada pula yang mengartikan paradigma dengan wawasan.
Dengan demikian Paradigma dan tujuan pendidikan Islam berarti pola, corak, model, wawasan serta tujuan pendidikan Islam dalam perspektif Al-Qur’an. Dalam karya ini pendidikan Islam akan dilihat dalam tiga komponen ilmu yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi.
A. Paradigma Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an
1) Ontologi Pendidikan Islam
Melihat pendidikan dalam perspektif ontologi adalah upaya untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hakikat pendidikan Islam. Hakikat pendidikan secara filosofis adalah upaya pemanusiaan manusia dengan cara-cara yang manusiawi untuk mencapai nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Pendidikan Islam yang berangkat dari term pendidikan dan Islam adalah pemaduan dan penselarasan antara pendidikan secara konseptual dengan Islam, baik secara historis maupun secara normatif. Dengan demikian hakikat pendidikan juga tidak lepas dari hakikat manusia karena manusia adalah objek sekaligus subjek bagi pendidikan.[1] Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri.[2]
Manusia dalam perspektif Islam terdiri atas dua unsur yaitu, unsur jasad dan ruh, unsur material dan spiritual yang memikul tanggung jawab (amanah). Tanggung jawab merupakan fungsi transendensi bagi individu sebagai abd dan khalifah di bumi. Perpaduan dari uraian hakikat pendidikan dan manusia maka pendidikan maka pendidikan Islam dalam perspektif ontologis dapat diverbalisasikan dalam sebuah konsep yaitu prosesa atau upaya terprogram dari pendidik untuk membantu subyek didik dalam mencapai nilai-nilai yang normatif sesuai dengan ajaran Islam.
2) Epistemologi Pendidikan Islam
Epistemologi adalah bagian terpenting dalam dunia filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode dan keabsahan pengetahuan. Gambaran definisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: Apakah pengetahuan itu? Apakah asal mula pengetahuan itu? Bagaimana cara mengetahui kalau kita mempunyai pengetahuan? Bagaimana bentuk dan corak pengetahuan? Bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan lain sebagainya.
Pertanyaan tersebut secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua: Pertama mengacu kepada sumber pengetahuan atau apa itu pengetahuan, pertanyaan ini lazim disebut pertanyaan epistemologi kefilsafatan yang mempunyai hubungan erat dengan ilmu jiwa. Sementara pertanyaan yang kedua berkaitan dengan semantik, yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dengan objek pengetahuan, dengan kata lain bagaimana cara memperoleh pengetahuan.
Berangkat dari definisi pendidikan bahwa pendidikan adalah bimbingan, pemimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan yang terjadi pada anak didik, baik jasmani maupun ruhani menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Dalam konteks ini, pendidikan berarti sebuah proses transformasi pengetahuan maupun nilai, baik terhadap akal maupun jiwa. Terhadap akal kan tercermin dalam intelektual, dan jika dalam jiwa tercermin dalam aktual.
Epistemologi dalam tulisan ini diarahkan pada dua hal: Pertama bagaimana proses pembelajaran yang merupakan salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan maupun nilai, baik terhadap akal maupun nilai. Kedua bagaimana proses pengajaran yang merupakan cara penyampaian pengetahuan atau nilai sehingga tercipta sebuah konsep yang aplikatif, strategis, praktis dan efektif.
Pembelajaran adalah salah satu proses untuk memperoleh pengetahuan sedangkan pengetahuan adalah salah satu cara untuk memperoleh kebenaran/ nilai, sementara kebenaran adalah pernyataan tanpa keragu-raguan yang dimulai dengan adanya sikap keraguan terlebih dahulu.
Di dalam Al-Qur’an dapat ditemukan banyak isyarat yang menunjukkan proses perolehan pengetahuan. Jika didekati dengan pendekatan epistemologi dapat dikelompokkan menjadi tiga cara yaitu: Pertama adalah cara empirik yaitu sebuah cara yang didasarkan pada pengalaman yang dikembangkan oleh kaum empirisis. Menurut pandangannya fungsi pikiran hanya mengenali prinsip-prinsip yang kemudian menjadi pengetahuan yang hanya mungkin diketahui lewat kemampuan berfikir rasional yang bersumber dari narasi. Bagi kaum empiris pengetahuan manusia tidak didapat lewat penalaran rasional yang abstrak, tetapi lewat pengalaman yang kongkrit. Gejala alamiah menurutnya bersifat kongkrit dan dapat dibuktikan lewat tangkapan panca indera yang ahirnya pengamatan tersebut membuahkan pengetahuan mengenai berbagai gejala yang mengikuti pola tertentu.
Di dalam Al-Qur’an ada beberapa term yang mengisyaratkan proses pembelajaran yang didasarkan pada pengalaman indera diantaranya adalah Pertama “khibrah” yang berarti berita (al-naba’) hanya saja sesuatu sesuatu disebut khabar jika diketahui sumber informasinya dengan jelas. Kata tersebut juga berarti pengetahuan tentang sesuatu yang konkret sesuai yang disampaikan. Kedua ”i’tibar” yang berasal dari derivasi kata ‘ubr yang berarti melampaui sesuatu yang melampaui sesuatu yang ditentukan, dan jika berbentuk ‘ubur, pelampauan tersebut dikhususkan terhadap air, baik dengan cara merenangi, menyelami, mengarungi, atau menyebrangi dengan jembatan. Kata ibrah atau i’tibar adalah ungkapan yang diterima oleh orang yang tidak menyaksikan peristiwa untuk mendorong agar orang yang menyaksikan peristiwa mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Ketiga “dirasah” yang secara bahasa berasal dari da-ra-sa yang berarti bekas atau pengaruh dari sesuatu. Dalam proses ini perolehan pengetahuan lebih dominan didasarkan pada hafalan dan ingatan. Keempat “ru’yah” yang berasal dari kata ra-’a, ya-ra yang berarti melihat, baik dengan mata maupun akal.Dalam term ini perolehan pengetahuan (informasi) lebih didominasi oleh pemfungsian daya lihat, baik dengan indera maupun dengan akal. Kelima “nazhar” yang berati secara bahasa adalah melihat sambil mengamati dengan mata, dan jika dikaitkan dengan sesuatu berati merenungkan, memikirkan, membuat ketentuan dan membuat ukuran. Dalam konteks ini perolehan pengetahuan didasarkan pemfungsian mata yang diiringi dengan pengamatan atau analisa. Keenam “bashar” yang diartikan atau juga bermakna penglihatan hanya saja penglihatan tersebut disifati dengan pandangan yang tajam. Kata tersebut dalam konteks yang lain juga dapat diartikan dengan; bukti kebenaran yang datang dari tuhan yang jika manusia mau menerimanya, ia akan beruntung, sebaliknya siapa yang menutup penglihatannya ia akan sesat. Jika proses nazar didasarkan pada penglihatan dan pengamatan, maka dalam proses ini hanya didasarkan pada kasat penglihatan.
Kedua yaitu cara pendekatan epistemologi “logik” ialah cara yang didasarkan pada logika yang dikembangkan oleh kaum rasionalis dengan menggunakan metode deduktif, dimana premis yang digunakan didapat dari dunia ide yang menurut anggapannya dapat diterima. Ide tersebut bukan ciptaan pikiran manusia, ia sudah ada sebelum manusia memikirkan yang dalam epistemologi Islam dikenal dengan burhany.
Ketiga yaitu cara pendekatan epistemologi “Intuitif” cara ini didasarkan pada intuisi dan wahyu. Rasional dan empiris adalah induk produk penalaran, sementara intuisi dan wahyu adalah pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran tertentu yang bersifat personal dan tidak dapat diramalkan. Metode ini dimulai dengan rasa percaya (keimanan) baru pengkajian, sementara dua metode lainnya dimulai dari sikap keraguan menuju kepercayaan lewat pengkajian.
3) Aksiologi Pendidikan Islam
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang hakikat nilai yang ditinjau dari sudut kefilsafatan ia merupakan salah satu obyek filsafat murni yang berfungsi untuk menilai hakikat suatu kenyataan yang berkaitan dengan nilai, baik etika, logika maupun estetika, sedangkan nilai adalah suatu kualitas tertentu yang mempunyai keberhargaan yang harus diapresiasikan dan harus dimiliki oleh manusia, baik individu maupun sosial. Nilai tersebut bersifat normatif, obyektif dan universal yang merupakan cita-cita kehidupan baik individual maupun komunal.
Islam memandang bahwa proses internalisasi nilai yang paling efektif adalah melalui tiga cara yaitu; Perkataan (qauliyah), perbuatan atau tingkah laku (fi’liyah/ ‘amaliyah) dan penetapan atau persetujuan (taqririyah). Ketiga cara tersebut terkemas dalam konsep keteladanan (uswah) yang merupakan misi dari risalah.
Sementara nilai yang diinternalisasikan kepada peserta didik sesuai dengan aliran pendidikan masing-masing diantaranya adalah:
Ø Aliran Progresivisme
Menurut aliran ini dalam proses pendidikan tidak ada suatu nilai yang baku untuk dicapai sesuai dengan tujuannya, karena menurutnya nilai hanya merupakan sebuah instrumen yang bersifat empiris yang be3rkaitan dengan nilai sosial dan belum menyentuh pada tataran nilai etik maupun religius. Oleh karena itu dalam perspektif kelompok ini nilai yang diinternalisasikan masih terbatas pada nilai-nilai insaniyah.
Ø Aliran Esensialisme
Menurut aliran ini dalam proses pendidikan setidaknya ada tiga nilai yang harus ada dan terinternalisasikan kepada peserta didik yaitu; nilai etik, logik dan estetik. Pandangan kelompok ini lebih maju dari pada kelompok sebelumnya yang hanya mengikuti nilai empiris.
Ø Aliran Perenialisme
Menurut Aliran ini sebuah proses pendidikan harus terinternalisasikan nilai-nilai yang abadi kepada peserta didik yang meliputi nilai etik, logik, estetik dan agamis, sehingga dalam aliran ini kebijakan yang tertinggi adalah penyatuan diri dengan Tuhan. Dengan demikian aliran ini berupaya menginternalisasikan nilai-nilai insaniyah dan ilahiah secara simultan terhadap peserta didik.
Dari aksiologi dari tiap-tiap aliran pendidikan tersebut, dapat dilihat bagaimana aksiologi pendidikan Islam. Berangkat dari pandangan Islam tentang hakikat manusia bahwa ia terdiri dari unsur jasad dan ruh, maka nilai yang diinternalisasikan dalam proses pendidikan Islam juga menyangkut dua hal tersebut yaitu; nilai-nilai insaniyah (insaniyah) dan nilai-nilai ilahiah (ruhiyah). Nilai insaniyah bersumber dari potensi dasar manusia yaitu daya cipta, rasa dan karsa yang bersifat dinamis, nisbi dan temporal. Sementara nilai-nilai ilahiah bersumber dari ayat-ayat Allah, baik Qurani maupun kauni yang bersifat mutlak dan abadi.
Dari nilai-nilai tersebut diharapkan mampu melahirkan output pendidikan yang berkualitas, baik moral (iman) maupun intelektual (ilmu) maupun amal (profesional) yang mampu mengemban amanah sebagai khalifah yang akan memakmurkan kehidupan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian pendidikan Islam diharapkan mampu untuk menjembatani fenomena dikotomismu dan sekularisme antara pendidikan agama dan umum. Serta dari nilai-nilai tersebut juga menjadi bagian integral sehingga tujuan pendidikan islam dapat tercapai sesuai kebutuhan ummat manusia.
B. Tujuan Pendidikan
Setiap proses yang dilakukan dalam pendidikan harus dilakukan secara sadar dan memiliki tujuan. Tujuan pendidikan secara umum adalah mewujudkan perubahan positif yang diharapkan ada pada peserta didik secara menjalani proses pendidikan, baik perubahan pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun pada kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana subjek didik menjalani kehidupan. Tujuan pendidikan merupakan masalah inti dalam pendidikan dan saripati dari seluruh renungan pedagogik.[3]
Program pendidikan Islam berkembang terus sebagaimana dilambangkan oleh perkembangan lembaga pesantren, muncul madrasah, kemudian muncul sekolah Islam, bahkan muncul perguruan tinggi Islam. Ajaran Islam tetap secara prinsip dipertahankan, meskipun dalam beberapa hal, antara lain, bobot jam pelajarannya sebagian mesti diserahkan pada mata pelajaran ilmu umum dan keterampilan.
Bagi pendidikan yang berjalan sekian abad sudah pasti dibutuhkan peninjauan kembali untuk mengadakan penyesuaian dengan tuntutan baru sejalan dengan perkembangan budaya bangsa. Yang dimaksud dengan memperbarui tujuan strategis pendidikan Islam adalah suatu tujuan menciptakan manusia beriman yang meyakini suatu kebenaran dan berusaha membuktikan kebenaran tersebut melalui akal, rasa, feeling, dan kemampuan untuk melaksanakannya melalui amal yang tepat dan benar atau disebut dengan jargon sehari-hari amal soleh yang berarti pengetahuan, sifat maupun tindakannya senantiasa baik atau benar.
Karena pendidikan tidak hanya mengajarkan atau mentransformasikan ilmu dan ketrampilan serta kepekaan rasa (budaya) atau agama (bagi mereka yang mengambil mata pelajaran agama sebagai bidang studinya), tetapi seyogyanya memberi perlengkapan kepada anak didik untuk mampu memecahkan persoalan-persoalan yang sudah tampak sekarang maupun yang baru akan tampak jelas pada masa mendatang yang dipandang sebagai kewajiban, baik sebagai professional yang terikat kepada kode etk profesinya (dengan tetap memiliki keterikatan batin dengan Allah Penciptanya), maupun sebagai kewajiban kemanusiaan yang berguna bagi lingkungannya. Dengan perkataan lain, pendidikan Islam harus berorientasi ke masa yang akan datang (futuristik) karena sesungguhnya “anak didik masa kini adalah “bangsa” yang akan datang. Bandingkan hadist yang berbunyi. “Didiklah anak-anak kamu, sesungguhnya mereka diciptakan untuk zaman mereka sendiri.
Dengan demikian usaha pendidikan Islam diproyeksikan pada hah-hal berikut ini:
1. Pembinaan ketakwaan dan akhlakul karimah yang dijabarkan dalam pembinaan kompetensi enam aspek keimanan, lima aspek keislaman dan multi aspek keihsanan.
2. Mempertinggi kecerdasan dan kemampuan anak didik.
3. Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta manfaat dan aplikasinya.
4. Meningkatkan kualitas hidup.
5. Memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan kebudayaan dan lingkungan.
6. Memperluas pandangan hidup sebagai manusia yang komunikatif terhadap keluarganya, masyarakatnya, bangsanya, sesama manusia, dan makhluk lainnya.[4]
Sedangkan Hasan Langgulung mempertegas dan memperjelas bagaimana dikutip oleh H. M. Suyudi bahwa tujuan pendidikan Islam kedalam tiga kategori, yaitu tujuan tertinggi atau akhir (aim), tujuan umum (goals) dan tujuan khusus (objectives). Tujuan umum adalah perubahan yang dikehendaki, yang diusahakan oleh pendidikan untuk dicapai, dalam hal ini sama apa yang dikutip Muhaimin dalam buku paradigma pendidikan Islam bahwa secara umum pendidikan Islam juga bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman dan penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sedangkan yang dimaksud dengan tujuan khusus adalah perubahan yang diinginkan yang merupakan bahagian tujuan umum. Tujuan khusus ini merupakan realisasi dari pengetahuan, ketrampilan, tingkah laku, sikap dan kebiasaan yang terkandung dalam tujuan akhir dan umum. Hasan Langgulung juga menambahkan Tujuan pendidikan baik akhir, umum maupun khusus semuanya bersumber dari Al-Quran dan Hadis. Tetapi ia telah diungkapkan dalam bahasa dan istilah modern yang dapat dilaksanakan di bangku sekolah.[5]
[1] M. Suyudi, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Integrasi Epistimologi Bayani, Burhani dan Irfani, (Yogyakarta: Mikraj, 2005) Cet. Ke-1, hlm.104
[2] Paulo Freire, Politik Pendidikan Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), cet. Ke-6, hlm.ix
[3] Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam, Pengembangan Pendidikan Integratif di Sekolah, Keluarga dan Masyarakat, hlm. 14.
[4] Jusuf Amir Faizal, Reorientasi Pendidikan Islam, hlm. 119
[5] H.M. Suyudi, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, hlm. 263


0 komentar:
Posting Komentar